Kian hari kian marak bermunculan di televisi pria dan wanita yang dengan mudah menggelarkan dirinya sebagai ustadz, ulama, kiai, habib, mubaligh dan sebagainya. Saya sendiri cukup merasa prihatin, benci, kesal, sebal dan sedikit geuleuh terhadap mereka lantaran pada hakikatnya merasa bahwa sebutan-sebutan tadi tidak berbanding lurus dengan perilaku mereka. Memang dalam beberapa kesempatan ada beberapa yang mengaku bahwa mereka tidak pernah menggelari dirinya dengan sebutan-sebutan itu tetapi masyarakatlah yang memberinya gelar tersebut, dilain sisi ada juga yang secara terang-terangan mengaku dirinya ulama dan mubaligh tetapi ceramahnya mengandung fitnah dan kebencian terhadap etnis tertentu, ada juga yang bersedia menjabarkan silsilah keluarga untuk meyakinkan masyarakat agar dirinya pantas disebut habib.
Yah kalau dipikir-pikir lucu juga jadinya ,saya jadi sedikit iseng untuk mencek arti dari kata - kata tersebut di dunia maya yang luasnya tiada tara ini (berlebihan -red). Berikut adalah beberapa arti kata yang coba saya telusuri dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (catatan : saya tidak akan membahas asal muasal pembentukan kata tersebut dan sebagainya karena kalau saya bahas bisa sampai 1 semester dengan 2 sks perminggunya) :
- Ustadz; ternyata menurut KBBI kata dasar yang benar adalah ustaz bukan ustadz. Kata ustaz sendiri adalah kata dari benda dari bahasa Arab yang memiliki arti 1. guru agama atau guru besar (laki-laki) sedangkan untuk perempuan adalah ustazah; 2 tuan (sebutan atau sapaan)
- Ulama; menurut KBBI berarti orang yang ahli di hal atau dalam pengetahuan agama Islam
- Kiai; menurut KBBI ada beberapa arti yaitu; 1 sebutan bagi alim ulama (cerdik pandai dl agama Islam): -- Haji Wahid Hasyim; 2 alim ulama:para -- ikut terjun ke kancah peperangan sewaktu melawan penjajah; 3 sebutan bagi guru ilmu gaib (dukun dsb): khabarnya Pak -- bisa menghubungkan orang dng roh nenek moyangnya;4 kepala distrik (di Kalimantan Selatan): ia menjadi seorang -- di distrik itu; 5 sebutan yg mengawali nama benda yg dianggap bertuah (senjata, gamelan, dsb): tombak -- Plered dr keraton Surakarta, gamelan -- sekati dr Sala; 6 sebutan samaran untuk harimau (jika orang melewati hutan)
- Mubaligh; menurut KBBI kata yang benar adalah mubalig bukan mubaligh. Adapun mubalig sendiri berarti mu·ba·lig n 1 orang yg menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam: mendengarkan ceramah agama oleh para --; juru dakwah; 2 orang yg mengumandangkan takbir dan tahmid (dl salat berjamaah) agar terdengar dng jelas oleh makmum
- Habib; menurut KBBI berarti 1 yg dicintai; kekasih; 2 panggilan kpd orang Arab yg berarti tuan; panggilan kpd orang yg bergelar sayid
Dari beberapa uraian di atas kita sekarang mendapati gambaran baru terhadap kata-kata ustaz, ulama, kiai, mubalig dan habib secara referensial, walaupun dalam penggunannya kita tidak hanya menggunakan kata tersebut secara linguistik tapi juga harus memperhatikan tataran sosial penggunaannya.
Kembali kepersoalan penggunaan kata-kata tersebut, sekarang saya menjadi bertanya-bertanya apakah seorang ustaz itu bisa berceramah sambil mencela orang lain atau ustaz tersebut mengajarkan untuk hidup sederhana tetapi dia sendiri setiap berceramah naik motor harley ratusan juta, mobil dengan harga milyaran dan kadang meminta tarif ceramah minimal enam digit plus tiap kehidupannya selalu disorot oleh kamera-kamera jurnalis infotainment
Mungkin kita juga mendengar akhir-akhir ini dalam rangka memeriahkan pilkada gubernur DKI Jakarta ada seorang penyanyi dangdut yang mengaku dirinya ulama dan mubalig yang menyampaikan pesan-pesan agama tapi dalam akhir pesannya terlontar fitnah-fitnah dengan alasan dia mengatakan fitnah tersebut dari twitter, facebook dan internet yang valid.
Ada juga istilah kiai untuk seseorang yang mendirinkan pesantren tetapi dari uang korupsi atau cuci otak pemuda-pemudi yang masih awam agama. Yang lebih menggegerkan lagi adalah kata habib, saat ini kata habib hanya boleh dipakai oleh orang Arab, keturunan Arab atau orang yang berwajah seperti orang-orang Arab sementara pemuda jelata seperti saya yang tampan dan manis tetapi asli Jawa Barat tidak bisa disebut habib.
Kadang dalam lamunan iseng saya selalu terbayang sosok Prof. DR. Muhammad Quraish Shihab, S.Ag, M.A., Phd. beliau adalah seorang cendekiawan muslim, Mentri Agama era Presiden Soeharto, ahli tafsir, pendiri Universitas Muslim Indonesia, Rektor, Staff Ahli Kemendikbud dan pendiri Pusat Studi Quran serta masih banyak lagi prestasi beliau. Dalam dakwahnya beliau selalu menyampaikan dengan lembut, cerdas, dan bersahaja yang menunjukkan betapa pengetahuannya itu mendalam dan luas tetapi beliau enggan dipanggil ustaz atau habib karena menurutnya tidak pantas sebutan itu baginya, terlalu berat. Berbanding terbalik dengan mereka-mereka yang bangga punya gelar ustaz, ulama, kiai, mubalig, dan habib padahal hanya hafal ayat Al Quran sedikit Hadits sepotong-sepotong tetapi diselingi kemampuan untuk menarik minat jurnalis infotainment mereka jadi bisa terkenal.
Hem yasudahlah, setidaknya saat ini saya telah tahu arti dari kata-kata tersebut secara referensial masalah penggunaan kata tersebut sesuai dengan artinya atau tidak biarkanlah waktu yang menjawab. Pada dasarnya saya menulis ini bukan karena sentimen terhadap orang-orang tertentu apalagi untuk suku tertentu tetapi lebih kepada pemikiran iseng seorang pemuda jelata yang menghabiskan waktunya untuk membaca dan mempelajari kehhidupan.
No comments:
Post a Comment