Mungkin saya termasuk orang yang masih awam tentang jurnalistik sebab memang saya tidak berkecimpung atau belajar didunia itu namun sedikit banyaknya saya tahu bagaimana menggali informasi dari lawan bicara agar ketidaktahuan yang saya miliki menjadi sebuah pengetahuan yang berguna. Oleh karenanya kesal sekali rasanya ketika saya melihat Muhammad Rizky reporter TV ONE mewawancara Jokowi secara live diprogram 100 hari Jokowi, dalam tayangan tersebut terlihat sekali sikap tendensius dan kesoktahuan yang dilakukan oleh sang reporter. Bukannya menggali informasi yang dalam dari Jokowi terkait pertanyaan yang diajukannya agar jawaban yang dilontarkan bisa dipahami oleh masyarakat, sang reporter malah melakukan desakan, pemotongan pembicaraan, serta bertubi-tubi mengeluarkan pertanyaan sinis seperti seseorang yang sedang menghakimi terdakwa. Entah saya yang memang awam terhadap etika jurnalistik atau si Muhammad Rizky yang sangat pintar sehingga dia merasa pertanyaannya sangat berbobot dan sudah sesuai aturan dan etika jurnalistik, apalagi kabarnya disebuah media menceritakan kalau Jokowi mendamprat TV ONE usai shooting karena TV ONE dianggap menghianati kesepakatan wawancara dengan Jokowi sebelum shooting.
Kalau kita membuka memori yang lalu bukan kali ini saja terlihat ketidakmampuan TV ONE dalam mengedepankan kesungguhan untuk menyajikan berita yang proporsional dan objektif untuk masyarakat. Masih ingat berita yang menyatakan TV ONE di boikot oleh warga lereng merapi karena beritanya yang hiperbola ? kemudian saksi palsu makelar kasus di TV ONE ? kalau saya bilang acara amal settingan TV ONE apakah anda juga masih ingat ?selain itu TV ONE juga menjadi corong media KPSI dan LSInya yang setiap hari hanya memberitakan kejelakan PSSI, ditambah lagi ketidakcermatan TV ONE yang sering menampilkan grafis yang kurang baik (cek disini). Jujur ketika TV ONE muncul menggantikan LATIVI yang hanya menanyangkan acara berbau seks dan mistis saya sangat senang sekali tetapi makin hari kesenangan saya menonton TV ONE menghilang terlebih lagi TV ONE tidak mau menampilkan berita lumpur LAPINDO atau berita-berita yang menyangkut kritik dan tudingan kepada bos besarnya Abu Rizal Bakrie.
Kiranya secara pribadi saya tidak berniat memojokkan TV ONE tapi lebih menginginkan tulisan saya ini menjadi bahan masukan kepada seluruh manajemen TV ONE untuk mau bertransformasi menjadi saluran berita yang lebih baik, memilih para pembawa berita yang baik, berwawasan luas dan tidak sok tahu atau sok pintar karena kalau pembawa berita TV ONE seperti Muhammad Rizky ketika mewawancara pak Jokowi atau reporter wanita yang mewawancara relawan, saya khawatir reporter-reporter TV ONE akan dikucilkan sebab tidak bisa menyampaikan berita yang kredibel serta sesuai dengan etika jurnalistik. Niatnya terdepan dalam mengabarkan malah jadi terdepan dalam mengaburkan. Dan selama TV ONE belum bisa memperbaiki pola pemberitaannya saya lebih memilih untuk menghapus channel TV ONE dari TV di rumah saya hehehe.
No comments:
Post a Comment