Laman

Thursday, 23 June 2011

Experience at The Beautiful Manado ( North Sulawesi )

Saya tidak pernah merasakan kekaguman seperti ini terhadap sebuah daerah/kota, tapi untuk Manado kekaguman itu rasanya begitu luar biasa ....

Beberapa waktu yang lalu tepatnya diawal April saya mendapatkan tawaran untuk mengikuti pelatihan ICBRR ( Integrated Comunit Based Risk Reduction ) yang diselenggarakan oleh Danish Red Cross di Manado , Sulawesi Utara untuk tanggal 9 - 19 Juni 2011. Pada awalnya saya sendiri merasa agak malas karena saya baru diterima magang di Palang Merah Indonesia untuk membantu administratif , selain itu ketika saya menjadi relawan kegiatan pelatihan seperti itu pernah saya ikuti belum lagi kabar yang bilang bahwa orang Manado itu adalah "pemakan segala". Namun akhirnya saya mengiyakan karena hitung - hitung bisa menambah pengalaman.

Akhirnya tiba pula tanggal 9 Juni , saya berangkat dari Markas Pusat PMI pukul 4 sore dan tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 6 sore tepat beberapa menit sebelum waktu keberangkatan pesawat. Pesawat sendiri take off pukul 6.30 sore dari Jakarta dan tiba pukul 10.30 malam waktu setempat di bandara Sam Ratulangi Manado. Dibandara , saya beserta kawan-kawan dari PMI Pusat dan PMI Daerah dijemput oleh kawan - kawan dari perwakilan PMI Provinsi Sulawesi Utara.

Selama dalam perjalanan yang dilakukan malam hari itu saya agak sedikit heran, karena sepanjang jalan yang saya lihat adalah gereja - gereja yang berdiri tegak tidak seperti di Jakarta dimana kebanyakan yang berdiri tegak adalah masjid - masjid. Selain itu saya juga melihat suatu keunikan dimana masjid dan gereja bisa berdampingan bahkan saya dengar cerita dari kawan saya yang dari PMI Provinsi Sulawesi Utara itu bahwa Manado itu terkenal dengan kerukunannya. Saya jadi terbayang di Jakarta atau disekitarnya dimana banyak terjadi perselisihan atau mungkin sampai ada pembakaran atau penutupan rumah ibadah secara paksa.

Bahkan saya juga jadi teringat kisah Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah menyakiti kaum non muslim yang bersahabat dan rentan atau menghancurkan rumah ibadah ketika peperangan atupun ketika berdakwah, Nabi selalu mengasihi setiap manusia dengan setulus hati, bahkan ketika Nabi Muhammad disakiti atau akan dibunuh Nabi Muhammad tetap menyayangi musuh - musuhnya dan meminta kepada Tuhan agar para musuh-musuhnya diberikan petunjuk hidayah. Nabi Muhammad akan berperang hanya ketika beliau diperangi. Begitupula Khalifah Umar bin Khattab ketika dalam penaklukan Yerussalem tidak ada satupun rumah ibadah yang dihancurkan ,beliau membebaskan para non muslim untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Bukankah itu adalah ciri agama Islam yang rahmatan lil 'alamin , lalu mengapa banyak ormas yang membawa nama agama Islam melakukan tindakan yang sangat memalukan, bukankah masih ada banyak cara yang bisa dilakukan selain menghancurkan dan menganiaya ? ah biar mereka dan Tuhan saja yang tahu.

Kembali lagi tentang Manado sesampainya dipenginapan Minahasa Prima Resort saya disambut senyuman hangat dan suara dembur ombak yang menenangkan hati. Esok harinya saya lalu mengikuti upacara pembukaan pelatihan dan kegiatan pelatihan ICBRR tentunya. Secara garis besar dalam pelatihan saya mendapat banyak pengalaman yang unik. Saya mendapat teman baru yang berasal dari Manado, Bitung, Sangihe, Majene, Kendari, Bombana serta beberapa daerah lainnya di Pulau Sulawesi. Ketika bercakap - cakappun saya sering mengalami kejadian yang unik seperti penggunaan kata "kita" bagi orang Jakarta "kita" adalah pengganti orang pertama jamak, sedangkan bagi orang Manado "kita" berarti saya/aku , dan bagi orang Sulawesi Barat "kita" berarti anda/kamu, menarik bukan ?

Dihari akhir pelatihan saya bersama kawan - kawan pergi melepas penat ke Bukit Kasih , dalam perjalanan kami melewati beberapa daerah namun saya tidak hafal nama-namanya karena agak aneh ditelinga saya ( hehehehe ) namun saya ingat satu kota yaitu Tomohon katanya kota itu terkenal dengan julukan kota bunga dan setiap tahun ada festival khusus dengan banyak bunga - bunga hias di jalanan. Dari penginapan sampai ke bukit kasih sekitar 2 jam melalui jalur Trans Sulawesi, oh iya saya juga sempat melihat daerah penghasil rumah - rumah khas Sulawesi Utara yang katanya sering diekspor ke Eropa.

Dibukit kasih saya mendaki ke bukit doa melalui jalur menengah saya sampai kesebuah puncak bukit dimana ditempat tersebut terdapat 5 bangunan peribadatan dari 5 agama resmi Indonesia. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan belum lagi dari puncak bukit terlihat kota, laut, serta bukit - bukit yang hijau. Ketika turun saya mendapati seorang pedagang yang menjual saguer minuman khas manado, saya sendiri sempat ingin mencobanya namun saya diingatkan oleh teman saya yang berasal dari Manado bahwa minuman itu mengandung alkohol sekitar 5 %. Saya urung untuk mencobanya namun saya kembali merasa aneh lagi , teman saya itu seorang katolik tapi dia sangat menghormati saya bahkan kadang dia memberitahu saya jika sudah masuk waktu ibadah, ketika dijakarta justru teman - teman yang seagama dengan saya kadang menawarkan minuman-minuman beralkohol dengan memaksa sampai kadang - kadang saya harus pura - pura punya kepentingan mendadak untuk menghindari ajakan itu.

Ketika hendak pulang kembali kepenginapan kami menyempatkan diri ke gedung Merciful Building untuk membeli oleh - oleh ,saya sendiri membeli beberapa baju bertuliskan I Love Manado dan dua kotak Klapertaart tanpa ruum. Saya juga sempat melewati Manado Town Square , Manado Convention Center, Jalan 17 Agustus dan beberapa pusat - pusat perbelanjaan. Setibanya dipenginapan saya sedikit merasa sedih karena saya merasa telah jatuh cinta dengan kota Manado, walaupun saya mungkin hanya baru tahu sebagian kecil tentang Manado saya sudah begitu terpesona ( mungkin juga saya terpesona karena Manado terkenal dengan wanitanya yang cantik - cantik :P )

Dan pada akhirnya setiap ada pertemuan maka ada perpisahan, 19 Juni 2011 pukul 3 sore saya harus meninggalkan kota Manado dan harus kembali ke Jakarta. Sebelum pulang saya sempat mampir ke restaurant seafood dan makan beberapa ikan bakar. Namun itu tidak bisa menutupi rasa kesedihan saya yang harus meninggalkan Manado. Dan dalam hati saya berjanji suatu saat saya akan kembali ke kota ini menikmatinya dengan penuh suka cita. Diakhir cerita ini saya bisa berkata I Love Manado.

Gb. 1 Kue Khas Manado

Gb.2 Makanan di Penginapan

Gb.3 Manado Tua

Gb.4 Peserta ToT ICBRR

Gb. 5 Rumah Adat Sulawesi Utara

Gb.6 Didepan tugu di Bukit Kasih

Gb. 7 Saya berpose di Bukit Kasih

Gb. 8 Saya menapaki bukit doa

Gb. 9 Saya sedang beristirahat sejanak

Gb. 10 Dipuncak Bukit Kasih

Gb.11 Seorang Bapak sedang merebus jagung dan telur di kawah

Gb. 12 Pesert ToT ICBRR berfoto bersama

No comments:

Post a Comment