![]() |
| Jean Henry Dunant |
Bagi anggota perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di seluruh dunia pastilah sudah tidak asing lagi dengan nama Jean Henry Dunant. Pria yang tanggal kelahirannya dijadikan penghormatan sebagai hari Palang Merah ini begitu berdedikasi dalam bidang kemanusiaan. Terbukti, pada tahun 1910 Jean Henry Dunant berhasil meraih Nobel Perdamaian pertama atas jasanya dibidang kemanusiaan.
Dunant kecil memang sudah ditanamkan nilai-nilai sosial dalam dirinya oleh orang tuanya. Ayahnya Jean Jacquest Dunant dan Ibunya Antoinette Dunant-Colladon merupakan pasangan pengusaha yang aktif dalam kegiatan keagamaan Calvinist dan sering membantu para anak yatim piatu, tahanan penjara, orang sakit, dan orang miskin. Keluarga Dunant menjadi keluarga yang berpengaruh dalam lingkungan masayarat Geneva saat itu. Namun, pada usia yang ke 21 tahun Dunant dipaksa keluar dari Universitas Calvinist karena nilainya yang buruk dan kemudian memutuskan untuk mengikuti program apprentice disebuah firma bernama Lullin et Sauter yang bergerak di bidang penukaran uang hingga akhirnya Dunant sukse menjadi seorang Bankir.
Kegiatan bisnis Dunant berkembang pesat bahkan Dunant pernah berkunjung ke daerah Aljazair, Tunisia, dan Sicilia dalam rangka meninjau daerah usaha yang akan dikerjakan bersama dengan perusahaan bisnis kolonial Geneva. Perjalanan bisnisnya begitu mengesankan hingga ia menulis buku berjudul An Account of the Regency in Tunis (Notice sur la Régence de Tunis) yang dipublis pada 1853. Berbekal pengalamannya , pada tahun 1856 Dunant berencana melakukan ekspansi bisnis kedaerah jajahan Perancis di Aljazair. Setelah mendepatkan persetujuan penggunaan lahan Dunant kemudian mendirikan perusahaan bernama the Financial and Industrial Company of Mons-Djémila Mills. Namun, pada kenyataannya terjadi sebuah permasalahan dimana lahan usahanya belum jelas dinyatakan sah untuk Dunant dan pemerintah setempat tidak bersikap kooperatif. Karena masalah tersebut Dunant memutuskan untuk menemui Kaisar Napolen III untuk menyatakan keberatannya. Pada saat itu Kaisar Napoleon III sedang berada di Lombardy karena pasukan Perancis sedang berperang membantu Piedmont-Sardinia melawan Austria. Kaisar Napoleon III memerintahkan Pasukan Perancis untuk membuka markas di kota kecil bernama Solferino, dengan demikian Henry Dunant berpendapat ini merupakan kesempatan bagi dirinya untuk bertemu Kaisar di Solferino.
Pada 24 Juni 1859, Jean Henry Dunant tiba di Solferino pada saat yang bersamaan terjadi pertempuran di daerah tempat ia singgah. Dunant terkejut dengan penglihatannya, pertarungan brutal yang menelan korban hingga mencapai angka 40.000 jiwa per hari begitu menghancurkan hatinya. Tidak ada yang menolong korban perang baik yang berasal dari militer atau warga tidak berdosa. Dunant membatalkan kunjungan bisnisnya dan terinpirasi dari tindakan yang dilakukan oleh Florence Nigtingale pada Perang Krimera ia lalu mengkoordinir para wanita untuk melakukan pertolongan korban perang dan membuka rumah sakit lapangan disebuah bangunan di daerah Castilogne. Setelah pulang dari peristiwa naas itu Jean Henry Dunant kemudian menulis buku berjudul Memory of Solferino (Un Souvenir del Solferino) pada tahun 1862 yang menceritakan tentang kejadian perang di Solferino dan betapa pentingnya menciptakan sebuah organisasi relawan yang netral untuk menolong korbang perang serta membentuk sebuah identitas yang yang dapat memproteksi para pekerja medis dalam menolong korban perang .
Buku tersebut tercetak sebanyak 1600 eksemplar menggunakan dana pribadi Dunant dan disebarkan kesuluruh kesatuan militer serta pemerintah di negara Eropa. Buku tersebut ternyata begitu berpengaruh bagi seorang Organisastor Masyarakat Geneva Gustave Moynier, Jenderal Angkatan Perang Swiss Henri Dufour, Dokter Louis Appia, Dokter Theodore Maunoir. Dengan ide Henry Dunant dipimpin oleh Jenderal Dufour mereka berlima membentuk Komite Internasional Palang Merah atau yang lebih kita kenal dengan International Committee of the Red Cross (ICRC) pada 17 Februari 1863. Namun, komite ini ternyata tidak berjalan mulus karena idealisme Jean Henry Dunant untuk menjamin netralitas bagi korban perang dan petugas medis ditentang oleh pragmatism Gustave Moynier yang berpendapat bahwa ide Dunant ini kurang realistis. Perseteruan ini berlanjut ketika Dunant berhasil menerapkan idenya pada Konvensi Geneva Pertama sementara disisi lain Gustave Moynier berhasil Presiden ICRC menggantikan Jenderal Dufour.
Kesibukan Dunant dalam bidang kemanusiaan membuat ia meng.esampingkan dunia bisnis yang ia geluti. Bisnis Dunant di Ajazair mulai runtuh ditambah lagi pada tahun 1867 dituduh terlibat dalam skandal kredit oleh Badan Kredit Geneva dan kemudian Dunant meninggalkan Geneva untuk berpindah-pindah tempat. 1868 Jean Henry Dunant dinyatakan bangkrut oleh pengadilan, hal ini menimbulkan efek bagi keluarganya hingga Dunant disarankan untuk mundur dari jabatan Sekretaris ICRC. Pada tahun yang sama Ibu Jean Henry Dunant meninggal dan pada 8 September 1868 ia secara penuh diberhentikan dari ICRC dengan demikian Gustave Moynier memegang kendali utama ICRC.
Perseteruan Gustave Moynier dengan Henry Dunant masih berlanjut, Henry Dunant dari seorang pemeluk agama Calvinist yang taat berpaling menjadi seorang agnostic karena ia berpendapat para orang beragama lebih mengutamakan nilai-nilai ritualitas daripada mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Gustave Moynier yang masih menjadi seorang Calvinist meradang, seperti ingin memastikan kejatuhan Dunant ia melakukan tindakan-tindakan mencegah bantuan dana dari kerabat, teman, dan pemerintah. Sebagai contoh ia mengatur hadiah dari penghargaan Society Morale yang tadinya akan diberikan secara menyeluruh kepada Dunant pada akhirnya dibagi menjadi tiga kepada Moynier, Dufour, dan Dunant dengan mengatasnamakan ICRC. Keinginan Kaisar Napoleon III yang ingin membayar dan sebagian hutang Dunant jika ia pindah ke Perancis dan jika sebagain hutang dibayar oleh para sahabat Dunant juga digagalkan oleh Moynier. Dunant jatuh miskin, namun ia tetap berkelana dari satu kota ke kota untuk menyebarkan idenya seperti yang ia tulis dibukunya. Kondisi ini membuat seakan Dunant terlupakan, walupun Dunant mulai mendapatkan bantuan dana untuk kebutuhan sehari-harinya dari kerabat jauh di London serta pada akhirnya menetap di sebuah rumah sakit dan panti jompo milik Dr. Herman Altherr di Heiden Swiss pada 30 April 1892, Dunant seperti hilang di telan bumi.
Kabar kehidupan Dunant ditemukan oleh seorang editor Jerman bernama Georg Baumer melalui sebuah artikel pada tahun 1895. Artikel tersebut banyak menggugah kalangan hingga mereka mengumpulkan dana bantuan untuk Jean Henry Dunant. 1897 Rudolf Muller seorang guru di Stuttgart Jerman menulis buku tentang kisah asli dari Palang Merah dan memberikan pengetahuan tentang peran Jean Henry Dunant sebenarnya. Berkat buku itu Dunant juga menjadi sering berkorespondensi dengan Bertha von Suttner seorang aktifis hakk-hak wanita dan kemudian mendirikan Green Cross di Brussel.
Pada 1901 Jean Henry Dunant menjadi nominator penghargaan Nobel Perdamaian bersama Frederic Passy, Gustave Moynier dan seluruh anggota ICRC. Pada akhirnya Dunant sebagai tokoh kemanusiaan dan Passy sebagai tokoh perdamaian saling berbagi gelar Nobel Perdamaian Pertama. Kemudian ICRC memulihkan reputasi Jean Henry Dunant sebagai pendiri ICRC. Dari hadiah Nobel, Jean Henry Dunant mendapatkan 104.000 Swiss Franc yang disimpan di Bank Norwegia dan diproteksi agar tidak bisa diambil oleh para kreditor, namun uang ini tidak pernah ia pergunakan seumur hidupnya. Dalam keadaan depresi dan paranoia karena takut diracun oleh para kreditornya Jean Henry Dunant terus memberikan kontribusi pada bidang kemanusiaan.
Menurut perawatnya diakhir hayatya Jean Henry Dunant mengirim kopi dari buku Muller kepada Ratu Italia dengak dedikasi pribadi. Selama 8 tahun Jean Henry Dunant tidak pernah beranjak dari kamar nomor 12 di pusat perawatan Heiden. Pada 30 Oktober 1910 dua bulan setelah meninggalnya sang rival Moynier, Jean Henry Dunant meninggal namun sebelum meninggal ia mengeluarkan kata-kata terakhir dengan sebuah pertanyaan “Kemana perginya kemanusiaan ?”. Dunant dimakamkan pemakaman Sihfeld di Zurich tanpa pernah berekonsiliasi dengan Moynier. Ia dimakamkan sesuai dengan wasiatnya tanpa upacara pemakaman, tanpa kegiatan berkabung, tanpa iring-iringan dan ia dibawa kepemakaman tanpa apapun. Uang hadial nobel di sumbangkan kepada pusat perawatan Heiden untuk memfasilitasi para orang miskin yang akan dirawat ditempat itu, sebagain diberikan kepada teman dan organisasi sosial di Norwegia dan Swiss, sebagian lagi diambil oleh kreditor namun tak mampu melunasi hutangnya dan ia meninggal dengan membawa hutang.
Adalah sebuah ironi tokoh kemanusiaan yang paling berpengaruh diabad modern yang tadinya seorang kaya raya harus meninggal dengan hutang dan kemiskinan. Padahal kalau Jean Henry Dunant mau ia bisa berfokus pada dunia bisnis yang dia gelutinya. Terlepas dari skandal dan kontroversi yang mengelilinginya, banyak hal yang bisa kita pelajari dari dedikasi Dunant terhadap bidang kemanusiaan. Henry Dunant sekarang ada dipuncak gunung tertinggi kedua di Swiss, sebagai penghormatan kepadanya Presiden Federas Swiss Didier Burkhalter meresmikan Dunantspitze atau Puncak Dunant pada 6 Oktober 2014. Walaupun Dunant telah meninggal seratusan tahun yang lalu namun gagasannya tak pernah mati.
Selamat hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah se-dunia.
*diolah dari berbagai sumber (DMY)

No comments:
Post a Comment