![]() |
Apa yang terbayang dibenak anda ketika mendengar kata sales, sales person, atau SPG/SPB ? mungkin bagi sebagian orang ini terdengar sebeagai kata yang mengganggu, melelahkan, atau sebisa mungkin harus dihindari. Saya pribadi dahulu kala selalu menganggap sales atau sales person adalah sebuah hal yang cukup rendahan. Oleh karenanya bagi beberapa orang agak sungkan untuk menulis kata sales dalam kolom jabatan perusahaan, biasanya kolom tersebut diisi dengan kata ganti product marketing atau product consultant agar terbaca agak mentereng. Citra buruk ini terbentuk dari perilaku beberapa orang yang terlalu agresif dalam menjalankan pekerjaannya yang notabene adalah penjualan.
Sekali lagi saya pribadi menganggap menjadi sales person adalah pilihan pekerjaan yang paling harus dihindari, bahkan saya pernah berucap lebih baik mati daripada menjadi seorang sales person. Namun, segera semua pandangan itu berubah ketika kondisi menganggur menyerang. Alkisah setelah lulus kuliah selama lebih kurang dua bulan saya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan dan memasrahkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk dipilihkan pekerjaan yang terbaik maka jadilah saya seorang sales person di sebuah perusahaan Multi Nasional Jepang yang bergerak dibidang printing, sebut saja Epson namanya (promosi -red). Adapun menjadi pekerja diperusahaan ini cukup unik, saya melamar lowongan sebagai Corporate Direct Sales Epson melalui jobstreet.com dan ternyata dalam waktu satu minggu melalui proses psikotes dan interview saya dinyatakan lolos menjadi sales diperusahaan ini.
Dalam bayangan saya menjadi sales diperusahaan ini mau tidak mau saya harus menawarkan printer kepada orang-orang seperti yang dilakukan oleh tukang kredit di gang-gang komplek perumahan. Namun ternyata tidak seperti itu kenyataannya, sebagai informasi Epson Indonesia merupakan sebuah perusahaan prinsipal dari Seiko Epson Corporation Japan. Sebagai prinsipal maka saya tidak dapat berjualan langsung kepada End User namun harus melalui Distributor, Main Dealer, dan Reseller,sehingga setelah saya mendapatkan pelatihan product knowledge, company profile, serta basic sales activities seperti Cold Calling, Sales Lead, dan Forecasting maka sayapun terjun ke lapangan. Hal utama yang mesti dilakukan adalah memberikan edukasi kepada pelanggan mengenai produk-produk unggulan. Selain itu sayapun dituntut untuk bisa menjadi konsultan, dalam hal ini saya harus bisa membantu pelanggan yang berasal dari Corporate untuk menemukan solusi terbaik dari kebutuhan pelanggan.
Serunya lagi, sebagai sales person saya banyak dibimbing oleh para mentor dan atasan saya untuk bisa melakukan diskusi dan negosiasi dengan para top decision maker (dan sampai saat ini saya terus belajar mengembangkan kemampuan ini -red). Artinya, saya dipaksa untuk bisa membuat kesepakatan penjualan yang strategis, tepat guna, dan berkesinambungan dengan para pelanggan. Saya juga diajarkan untuk bisa membangun manajemen jejaring dengan mitra kerja seperti Distributor, Main Dealer, dan Reseller. Kesemua ini benar-benar membalik pemikiran saya tentang dunia penjualan atau sales.
Dengan kata lain, dunia sales adalah dunia yang terbuka luas untuk pengembangan diri karena kita akan sering bertemu dengan orang baru yang memiliki ragam karakter, kita juga mendapatkan masalah baru yang menuntut kita untuk bekerja cerdas dan berpikir cepat. Belum lagi menjadi sales person benar-benar menguji mental kita, sebagai contoh saya sering mendapat penolakan sebelum memberikan informasi mengenai produk yang ditawarkan. Tak jarang banyak calon pelanggan yang bersikap ketus, menjengkelkan, merendahkan atau sering membuat saya sebagai sales person sering menjadi rendah diri. Bersyukurnya saya, semua ini dapat teratasi berkat usaha dan doa, serta dukungan orang-orang sekitar. Setiap pekerjaan memiliki resiko, dan setiap pekerjaan memiliki keuntungan. Khusus yang satu ini, keuntungan lain menjadi sales person penghasilan yang boleh dibilang tidak terikat. Sebagai gambaran, selain mendapat gaji pokok para sales person juga akan mendapatkan komisi atau bonus yang berbanding lurus dengan target penjualan yang dicapai. Makin tinggi penjualannya maka makin tinggi besaran bonusnya, salah satu senior saya bahkan ada yang bisa sampai beli mobil tunai karena penjualannya melebihi target hingga dua ratus persen. Adapun resiko terburuknya kalau tidak mencapai target penjualan secara konsisten ya diputus kontrak, dan itu cukup fair menurut saya.
Oh iya, menjadi sales person ternyata bisa menjadi sebuah kutukan. Katanya, kalau sudah menjadi seorang sales person maka selamanya dia akan menjadi sales person. Insting sebagai sales person akan terus muncul. Tapi, kalau dipikir-pikir sebetulnya semua orang adalah seorang sales person, minimal ia "menjual dirinya" kepada orang lain, namun tidak semua orang berani mengakuinya. Perlu diingat juga peluang kerja dibidang sales selalu ada disetiap perusahaan serta jenjang karir seorang sales person lebih terjamin, karena sales person adalah ujung tombak perusahaan. Hidup dan mati perusahaan berada dibidang penjualan untuk meraih revenue atu keuntungan bagi perusahaan. Pernyataan saya ini tidak untuk merendahkan mereka yang bekerja diluar bidang penjualan, namun justru ingin memberikan gambaran bahwa seorang sales person merupakan orang yang penting juga diperusahaan.
Maka terkutuklah seorang sales person, karena ia akan dituntut untuk bekerja ekstra mengembangkan kemampuan diri, membangun jejaring, serta menguatkan mental untuk menjual secara baik dan benar. Sekaligus mengulang kalimat saya sebelumnya, sekali menjadi sales person maka selamanya akan menjadi sales person, minimal melakukan penjualan untuk meningkatkan citra dan kesejahteraan diri. Walaupun terdengar negatif, semoga istilah kutukan menjadi pemicu untuk mencoba bergelut dibidang penjualan bagi mereka yang belum memutuskan untuk menekuni bidang pekerjaan apa. Pesan terakhir saya kepada semua pembaca blog, semoga kalian terkutuk menjadi sales person yang sukses dan selamat menjual hehehe.

No comments:
Post a Comment